Cara Memotret Milky Way Fotografi


Memotret Bulan dan Bintang


Fotografi memang sangat luas pembahasannya. Ada banyak jenis karya foto yang dihasilkan, baik itu foto landscape, model, Humant Interest, maupun Black And White. Setiap passion tersebut masih terdapat jenis yang ada di dalamnya. Ini mengapa seorang fotografer dikatakan kreativ. Karena mereka selalu tidak puas dengan setiap karya yang dihasilkan. Ingin selalu mencoba dan terus mencoba.

Milkyway fotografi contohnya. Milky way adalah teknik pengambilan foto pada rasi bintang di langit. Di indonesia menyebutnya dengan istilah Bima Sakti. Penampakan rasi bintang yang pasti muncul setiap tahunnya. Ada banyak jenis dari Milky Way, yang paling sering diburu adalah rasi bintang sagitarius. Ini karena Indonesia memiliki letak lokasi yang pas untuk melihat rasi bintang tersebut.
Pengambilan gambar rasi bintang dapat dilakukan dengan cukup sederharna, asalkan mengerti bagaimana cara pengambilan. Jika dilakukan dengan konsep yang benar, akan menghasilkan foto yang baik pula. Tentu tidak sembarang tempat bisa melakukan pemotretan ini. Milky way bisa ditemui dalam kondisi yang sangat minim cahaya, lebih baiknya lagi tidak ada cahaya sama sekali di tempat pengambilan. Berikut peralatan yang harus dibawa ketika ingin memotret rasi bintang :

1.  Tripod
2.  Remote Shutter
3.  Lensa wide / Kit
4.  Filter GND / CPL

Tripod adalah elemen yang sangat penting untuk dibawa ketika hendak memotret rasi bintang. Karena kita mengatur settingan kamera dengan slow speed. Minimum 30”(detik) waktu yang dibutuhkan. Bisa saja, diatur lebih dari 30”, kalian bisa gunakan remote shutter jika ingin mengatur kamera diatas 30”. Tidak boleh ada gerakan sama sekali ketika pemotretan sudah di mulai, hal ini akan memberikan efek gambar yang kurang jelas. Ruang tajam setiap foto akan terlihat kurang fokus.

Selanjutnya adalah masalah lensa. Semua lensa sebenarnya bisa untuk mengambil foto Milky way, namun tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Pernah saya menggunakan lensa fix untuk mengambil foto rasi bintang. Sudah terlihat hasilnya, tetapi memiliki frame yang sangat kecil lingkupnya. Ini karena lensa fix tepat digunakan untuk mengambil obyek yang kecil. Berbeda dengan lensa wide atau kit, kalian akan lebih mudah untuk mendapatkan foto Milky Way. Lensa wide menghasilkan frame yang sangat luas. Foto kalian akan terlihat lebih lengkap komposisinya. Lensa tele juga opsi yang bagus untuk digunakan, mengingat harga yang mahal untuk membelinya lebih baik menggunakan lensa yang kalian miliki saat ini.

Untuk filter, sebenarna ini hanya elemen pendukung jika cuaca pada saat itu kurang bersahabat. Kebanyakan seorang fotografer menggunakan filter jika ingin menhasilkan long exposure. Memberikan efek dramatis pada awan agar terlihat lebih jelas setiap detilnya. Tidak masalah bagi kalian yang tidak mempunyai filter. Cukup dengan membawa peralatan yang kalian miliki.

Selain peralatan tersebut, faktor alam juga sangat menentukan untuk bisa mendapatkan foto rasi bintang. Tidak diperkenankan ketika langit terlihat mendung ataupun tidak terlihat adanya bintang sama sekali. Adanya bulan juga bisa mempengaruhi hasil foto. Jadi, kalian harus benar – benar seksama melihat kondisi awan pada saat foto. Ketika terdapat banyak bintang ditambah lagi tidak adanya bulan di sekitarnya, bolehlah kalian untuk mencoba melakukan pemotretan.

Untuk bisa memotret milky way, sesuaikan pula bulan apa yang pas untuk hunting Milky Way. Karena Indonesia berada di daerah khatulistiwa, jadi bulan yang tepat untuk mengambil foto rasi bintang adalah antara Maret – Agustus. Selain diantara bulan tersebut, bisa saja kalian mencoba untuk mengambil foto Milky Way, namun belum tentu bisa menghasilkan foto yang maksimal. Hindari juga untuk mencoba memotret pada saat setelah hujan, kondisi awan jelas tidak bisa ditentukan. Lebih baik kalian memilih ketika kondisi alam benar – benar terang.

Terkait tempat, kalian bisa untuk berburu Milky Way di daerah yang sangat minim dengan polusi cahaya. Pegunungan dan pesisir pantai adalah spot yang sangat strategis untuk hunting foto Milky Way. Kalian juga bisa menambah aksesoris lain untuk memercantik hasil foto, bisa menggunakan lampu senter atapun yang lainnya. Mengajak beberapa rekan yang sudah berpengalaman memotret bintang akan mempermudah kalian untuk mendapatkan hasil.

Hindari untuk pengambilan foto yang masih ada cahaya bertebaran, ini akan mempengaruhi hasil foto. Milky Way tidak akan begitu tampak dengan jelas jika masih ada polusi cahaya di sekitarnya. Berbeda jika cahaya yang ada hanya pada bintang – bintang tersebut, kalian akan melihat begitu jelas bagaimana arus rasi bintang terbentuk.

Saat ini sangat mudah untuk menentukan dimana letak rasi bintang terjadi. Banyak aplikasi yang membantu melihat arah rasi bintang. Kalian bisa mencoba aplikasi “STELLARIUM” untuk membantu ketika pengambilan foto. Aplikasi ini bisa kalian unduh baik dari play store maupun melalui komputer. Sistem pemakaiannya juga tidak begitu rumit, tinggal ikuti langkah – langkah yang disarankan.



Selalu Perhatikan Pengaturan Kamera  

Pengaturan pada kamera juga sangat menentukan hasil foto. Yang terpenting adalah shutter speed harus di atur sangat lambat, minium 30”. Selanjutnya diafragma bisa diatur dengan bukaan lensa terbesar pada kamera (2.5 / 3.5). Pilih ISO dengan aparature terbesar, 3000 ataupun diatasnya. Ini mengapa tidak diperbolehkan adanya lampu cahaya yang begitu terang. Hal ini akan membuat hasil menjadi over exposure, hasil foto akan terlihat pudar karena sudah diatur dengan SS lambat dengan ISO paling tinggi.


Perlu diingat jika hendak memotret Milky Way adalah menentukan dimana titik fokus kalian letakkan. Ini adalah sebagian masalah yang sering dihadapi fotografer. Hasil foto selalu memliki ketajaman yang kurang. Kalian bisa mengatur dengan manual fokus pada kamera, setelahnya berikan pencahayaan sedikit ke obyek yang hendak kalian foto. Ini akan mempermudah kalian mendapatkan ruang tajam yang lebih detil. Letakkan tripod di tempat yang aman dari gerakan – gerakan yang mudah goyah. Apabila tidak membawa remote shutter, bisa kalian beri timer sebelum pengambilan gambar. Hal ini untuk mempertahankan stabilizer pada kamera.


Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Bisa kalian ulangi untuk setiap foto yang sudah di ambil. Pilih angle yang berbeda dari setiap foto. Mengatur settingan kamera yang berbeda juga memberikan hasil yang berbeda, namun shutter Speed tetap di angka 30” selain itu bisa kalian ubah pengaturannya. Untuk mempercantik hasil, bisa kalian tambahi dengan obyek pada foto. Jika memotret di pesisir pantai, tenda – tenda orang lain yang bermalam disana bisa dijadikan sebagai POI (Point Of Interest).


Langkah selanjutnya mengenai format foto yang kalian simpan. Ubahlah format foto dai JPG ke format RAW. Kualitas gambar akan lebih bagus daripada format JPG, selain itu bisa kalian poles di aplikasi editing jika nampak kurang dramatis hasilnya. Format RAW akan lebih mudah untuk di edit di Photoshop maupun Lightroom. Sedangkan JPG memerlukan perubahan yang cukup banyak jika memerlukan edit tambahan.




Scroll To Top