Apakah Penting Teori Gestatl Di Terapkan Pada Fotografi?


Penerapan Teori Gestalt Pada Foto  

Secara harfiah Gestalt (Bahasa Jerman) berarti bentuk. Namun dalam ilmu psikologi, Gestalt adalah teori yang menjelaskan cara otak manusia memproses persepsi. Proses itu melalui penyusunan bentuk – bentuk sensasi (hasil sensor penglihatan) yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan, menjadi suatu kesatuan yang utuh. Gestalt ini dipelajari karena otak manusia terbiasa untuk melihat dan menyederhanakan melalui pola dan bentuk.

Teori Gestalt mengajarkan kita tentang sesuatu yang sedang kita lihat, lantas mengatur dalam pikiran kita untuk bisa lebih memahami gambar tersebut. Ringkasnya, ketika kita sedang berada di lokasi yang sangat rumit tata letaknya, kita mencoba untuk menyimpulkan sebuah lokasi itu dengan pemahaman yang sederhana dan mudah dikenal.

Fotografi sendiri adalah seni melukis cahaya yang kemudian dijadikan sebuah gambar. Jika dipadukan dengan teori Gestalt tentunya sangat berhubungan. Jika kalian bisa menerapkan teori ini, tentunya hasil foto kalian akan mudah dipahami oleh orang lain. Dengan teori ini pula, gambar yang kalian hasilkan lebih mempunyai arti yang lebih.

Bentuk – bentuk itu disusun berdasarkan :
a.    Kemiripan (Similarity)
b.    Kedekatan Jarak (Proximity)
c.    Penutupan Bentuk (Closure)
d.   Kesederhanaan (Simplicity)
e.    Kesinambungan (Continuity)
f.     Kesamaan Arah (Common Fate)
g.    Segregasi (Figure to Ground)

1.    Kemiripan (Similarity)
Hukum kemiripan menyatakan bahwa otak akan mengelompokkan sebuah objek dengan objek lain yang mirip dengannya, sehingga menjadi suatu kesatuan. Bayangkan, di sebuah pantai, pada pagi hari, ada bebatuan, ada pepohonan kelapa, ada sinar matahari terpantul di permukaan air laut. Bentuk bebatuan memiliki kemiripan antara satu dan lainnya. Kemiripan itu membentuk kelompok yang harmonis dan mudah dicerna.

Bayangkan juga, di kaki Gunung Bromo ada gugusan bukit berlapis – lapis. Bukit – bukit tersebut memiliki bentuk yang mirip. Yaitu segitiga. Lapisan – lapisan bukit (layer) juga memiliki kemiripan. Kedua jenis kemiripan tersebut membentuk sebuah persepsi yang harmonis sehingga kita merasa nyaman melihatnya.

2.    Kedekatan (Proximity)
Hukum kedekatan menyatakan bahwa sepasang atau sekelompok objek yang berdekatan akan lebih mudah untuk diidentifikasikan daripada yang berjauhan. Boleh jadi elemen – elemen tersebut berbeda bentuk atau rupa atau pola. Namun Karena letaknya berdekatan, otak akan mempersepsikan harmonisasi. Bayangkan, ada seorang laki – laki berjalan beriringan dengan keduanya. Dari kejauhan, mereka akan terlihat serasi. 

3.    Penutup Bentuk (Closure)
Hukum penutupan menyatakan bahwa pikiran bisa menyusun persepsi untuk melengkapi bentuk yang tidak terlihat. Meskipun mata melihat bagian yang terputus atau terhalang oleh benda. Bayangkan, ada sekelompok anak berlarian di jalanan kecil di tengah padang rumput.
Rerumputan membentuk garis kurva warna solid berbatasan dengan jalur pejalan kaki. Garis itu terputus oleh anak – anak yang melewatinya. Namun kita masih melihat garis yang terus menerus hingga tersambung ke bagian atas. Pikiran kita secara otomatis mengisi kekosongan.

4.    Kesinambungan (Continuity)
Hukum kesinambungan menjelaskan bahwa pikiran cenderung untuk melanjutkan bentuk / garis  di luar titik akhir benda tersebut. Kesinambungan seperti garis terdepan juga dapat digunakan sebagai garis penuntun menuju sebuah objek.

Bayangkan, ada sebuah jembatan kecil. Di ujungnya ada sekelompok anak kecil yang sedang mengerubungi penjual somay. Otak kita akan membayangkan bahwa jembatan itu belum selesai dan masih ada kelanjutan pada sisi kiri dan kanan.
Hukum kesinambungan bisa dijadikan sebagai arah untuk melihat objek utama pada gambar. Semakin jelas arah tersebut, semakin mudah pula untuk bisa sampai di ujung obejek utama. Orang lain langsung bisa menyimpulkan maksud dari arah yang berada di samping tersebut.

5.    Kesederhanaan (Simplicity)
Hukum kesederhanaan menjelaskan bahwa gambar yang sederhana lebih mudah untuk dicerna oleh pikiran. Sehingga persepsi lebih mudah untuk didapatkan. Bayangkan, ada sebuah jalanan dengan pohon palem di tepinya. Juga tiang – tiang dengan kabel listrik. Semuanya mengarah ke titik hilang di cakrawala. Garis – garis yang berdekatan, seperti kabel yang menggantung di tiang listrik, disederhanakan oleh pikiran yang melihat mereka sebagai satu baris. Sama halnya dengan pohon palem. Set garis pendek dan vertical ini disederhanakan menjadi garis diagonal panjang yang mengikuti sisi jalan.
Ketika kalian dihadapi pada satu momen, perhatikan dengan seksama. Bisakah kalian untuk membuat momen itu lebih sederhana dan mudah dikenali. Setelah itu pikiran kalian akan terbiasa untuk mempelajari momen – momen tersebut dan menyimpulkan lebih singkat.

6.    Kesamaan Arah (Common Fate)
Hukum kesamaan arah menyatakan bahwa otak akan mengelompokkan sebuah objek dengan objek yang lain yang bergerak menuju arah yang sama dengannya, sehingga menjadi suatu kesatuan. Bayangkan, ada 3 orang penunggang kuda di Bromo yang sedang bergerak ke arah kita pada jalur dari kiri ke kanan.

7.    Segresi (Figure To Ground)
Hukum segresi atau pemisahan menyatakan bahwa persepsi manusia akan lebih mudah menerima bentuk (Figure) yang terpisahkan dari latar (Ground). Bayangkan, di Bromo ada siluet orang dan kuda yang sedang berdiri berdekatan.

Sebagai penggemar fotografi, kita perlu mempelajari Gestalt agar bisa menyusun komposisi secara lebih baik. Agar bisa menghasilkan karya – karya foto yang menggugah. Karena hasil fotografi (melukis dengan sinar) adalah sebuah karya seni. Hukum ini juga mengajarkan kita untuk memilih objek mana yang sesuai untuk dijadikan figure ataupun latar. Tidak semua objek layak untuk dijadikan sebagai latar ataupun figure. Semua tentu ada porsi dan aturan tersendiri. Pikiran seseorang selalu beranggapan bahwa objek yang kecil adalah figure utama, sedangkan wilayah yang dikatakan luas tepat untuk dijadikan latar. Itu adalah pemahaman secara umum. Untuk bisa menilai lebih dari itu, cobalah untuk melihat dengan seksama lingkungan sekitar.
Kesimpulannya adalah, bahwa teori Gestalt adalah pemahaman sederhana tentang persepsi dengan kenyataan yang ada. Jika kalian bisa memahami teori ini, pasti kalian bisa menghasilkan sebuah foto yang sederhana namun bisa bercerita secara luas. Selembar foto tidak mungkin bisa menaruh banyaknya elemen yang ada pada kenyataan. Foto kalian hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan yang ada. Dengan teori ini, bagaimana cara kita untuk bisa menghasilkan gambar yang didalamnya bisa dimaknai secara luas.

Jadi ketika orang lain melihat gambar kita, mereka sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi yang sesungguhnya. Buatlah sesederhana mungkin namun bisa untuk dimaknai semua orang. Kalian tidak perlu lagi untuk menjelaskan panjang lebar tentang pengambilan gambar tersebut. Biarkan mereka yang memahami dimana foto itu diambil, apa saja yang ada disana, serta apa yang menarik dari lokasi tersebut. Ini semua di muat pada teori Gestalt. Tentu teori  ini sangat membantu jika kalian hobi dengan fotografi. Foto yang bagus tidaklah foto yang berada di lokasi mewah pula, tetapi foto yang bisa menceritakan semua kejadian yang ada pada aslinya.

Scroll To Top