Inilah Fotografi


Belajar Fotografi  

Fotografi (Photography) terdiri dari dua kata. Foto (photo) berarti sinar dan grafi (graphy) berarti lukisan atau tulisan, yang dalam arti luas bermakna ilmu. Kata fotografi berarti ilmu untuk mengolah sinar. Hasilnya adalah karya seni yang bisa menggugah rasa penikmatnya. Fotografi adalah medium (wadah) berkesenian sekaligus medium penyampaian berita secara visual. Sesuai dengan slogan : sebuah gambar berbicara seribu kata.

Untuk memahami fotografi, sekurangnya ada dua hal yang harus dikuasai oleh penggemarnya. Yaitu komposisi dan pencahayaan atau lazim disebut exposure. Namun, untuk mendapatkan hasil foto yang indah atau bercerita, masih diperlukan kepekaan atau kemampuan untuk menangkap saat atau peristiwa atau momentum.

Pencahayaan atau exposure adalah jumlah cahaya yang diterima oleh sensor lensa. Unsurnya ada 3 satuan, yaitu : ISO, Aperture, Diafragma dan kecepatan. Sedangkan komposisi adalah susunan benda – benda di dalam satu ruang bingkai. Benda – benda itu disebut elemen komposisi. Cara menyusunnya disebut dengan teknik komposisi. Fotografi dengan momentum adalah satu kesatuan yang saling mengikat. Sebuah foto hanya berkesan biasa jika tidak ada unsure momentum di dalamnya. Karena momentum ini adalah waktu yang tepat untuk bisa mendapatkan objek foto yang bagus.
Dalam dunia fisika, momentum adalah besaran yang berhubungan dengan massa sebuah benda dan kecepatan. Namun, dalam dunia fotografi, momentum bermakna lain. Yaitu momentum atau saat atau peristiwa. Persisnya adalah saat tepat untuk menekan tombol shutter pada kamera. Pada jenis landscape, momentum biasanya berkaitan dengan golden hour dan blue hour. Yaitu saat – saat dimana matahari sedang memancarkan sinar dengan warna tertentu. Pada jenis Human Interest, momentum adalah saat subyek memunculkan gesture (gerak tubuh) tertentu.

Pada jenis Street, saat memotret ada pada keadaan yang unik seperti juxt a position, koneksi, refleksi, decisive moment dan sebagainya. Untuk melatih kepekaan memanfaatkan momentum ada bermacam cara. Salah satunya adalah memotret kuda yang sedang meloncat. Shutter di letakkan persis pada saat kuda tersebut menunduk untuk mulai meloncat. Waktunya sangat tepat. Sebab itu, gunakanlah shutter speed tinggi. Sekurangnya adalaha 1/800. Gunakan juga aperture menengah agar tajam pada semua bidang. Misalnya f/8. Gunakan juga center weight average untuk metering mode. Setel ISO pada 400 atau 800, tergantung kecerahan cuaca saat itu.

Pencahayaan atau exposure terdiri dari 3 komponen, yaitu
a.    Diafragma (aperture)
b.    ISO
c.    Shutter Speed (kecepatan rana)

Ketiga unsur diatas adalah segitiga exposure pada fotografi.
Angka diafragma atau aperture dilambangkan degnan huruf (F). Semakin kecil nilainya, berarti bukaan semakin besar. Sebaliknya, semakin besar nilainya, semakin kecill sempit bukaan pada lensa. Jadi f/4 adalah bukaan diafragma besar, dan f/22 adalah bukaan sempit. Untuk jenis foto portrait, atau sengaja ingin mendapatkan foto dengan latar belakang buram (bokeh), angka diafragma disarankan antara f/4 dan f/5,6. Tergantung pada seberapa buram yang diinginkan, seberapa dekat jarak lensa dengan subyek, dan jenis lensa apa yang digunakan.

Untuk memotret sekelompok orang, diafragma yang disarankan adalah pada rentang f/5,6 hingga f/8. Untuk foto landscape atau ketika menginginkan ketajaman pada semua bidang, angka diafragma disarankan antara f/8 dan f/18. Angka pastinya akan bergantung pada pemandangan sebenarnya dan jarak antara pemandangan dan lensa. Untuk foto makro, diafrgama anjuran adalah pada f/14 untuk mendapatkan Dept Of Field yang dalam.

Segitiga Exposure  

Selanjutnya beralih ke ISO. Angka ISO atau ASA pada kamera analog, menunjukkan kepekaan sensor lensa terhadap cahaya. Jangkauannya mulai dari 50, 100, 200, 400, dan seterusnya. Bahkan lebih. Semakin terang, ISO yang diperlukan semakin kecil. Sebaliknya, jika semakin gelap, ISO disetel semakin besar. Kelemahannya adalah semakin besar ISO, akan muncul bintik – bintik (noise) akan semakin banyak. Namun, tentunya hal ini tidak berlaku pada kamera dengan kualitas terbaik.

Sedangkan Shutter Speed adalah kecepatan lensa membuka dan muntup. Kecepatan bukaan ini bergantung pada obyek yang akan difoto. Untuk obyek yang tidak bergerak, kecepatan rendah bisa digunakan. Misalnya memotret pemandangan alam. Untuk obyek bergerak, semakin cepat pergerakannya, bukaan lensa pun mengikuti. Gunakanlah tripod ketika kecepatan di bawah 1/60 detik. Karena tangan manusia hanya mampu menahan getar angka tersebut.
Sebelum mengambil foto, pikirkan tentang hal yang ingin dicapai. Lalu putuskan pengaturan yang diutamakan dan bekerjalah berdasarkan urutan kepentingan. Misalnya, jika Diafragma adalah pengaturan lebih utama, aturlah sesuai keperluan. ISO dan Shutter Speed diatur setelahnya. Mengenai komposisi bisa dilakukan dengan memilih obyek atau spot foto yang menarik untuk di potret. Karena komposisi itu sendiri adalah susunan dari beberapa obyek. Ada teknik komposisi yang berarti cara menyusun. Ada juga elemen komposisi yang berarti materi yang disusun.

Elemen yang ada pada komposisi :
a.    Garis
b.    Bentuk
c.    Tekstur
d.   Pola
e.    Warna

Ada juga Point Of Interest yang disingkat dengan POI. Point Of Interest bisa berupa benda / obyek atau orang / subyek. Teknik – teknik yang ada pada komposisi foto :
a.    Aturan sepertiga (rule of thirds)
b.    Garis penuntun (leading lines)
c.    Garis diagonal
d.   Bingkai (framing)
e.    Pola berulang (repeating pattern)
f.     Pantulan (reflection)
g.    Simetri (symetry)
h.    Separasi (separation)
i.      Full fram
j.      Ruang negative (negative space)
k.    Aturan ruang (rule of space)
l.      Aturan ganjil (rule of odds)
m.  Golden ratio


Komposisi Foto

Salah satu yang paling mudah dipelajari adalah teknik sepertiga. Teknik komposisi ini sangat popular. Hampir semua pemotret menggunakan teknik ini. Caranya adalah membagi bingkai menjadi 9 bagian persegi panjang dengan sisi yang sama, menggunakan 2 buah garis mendatar dan 2 buah garis menurun. Point Of Interest ditempatkan pada salah satu titik perpotongan garis mendatar dan menurun. Contohnya adalah, seseorang yang ditempatkan pada titik kanan bawah.
Hampir semua dari kita senang memotret langit. Terutama ketika senja atau awal pagi. Sewaktu berwarna jingga atau merah. Tapi, beberapa dari kita melupakan elemen daratan. Sehingga foto yang dihasilkan sangat didominasi oleh langit. Kata orang – orang yang pekerjaannya menkurasi, hasil foto seperti itu kurang memiliki nilai estetika. Sebab itu, aturan sepertiga atau Rule Of Thirds menyarankan agar langit diposisikan pada sepertiga bagian atas. Atau sebaliknya, daratan pada sepertiga bagian bawah.

Jangan khawatir bagi kalian yang baru memulai mendalami ilmu fotografi, semua bisa dipelajari asal kita mempunyai keinginan yang kuat. Sering – seringlah untuk melakukan pemotretan di luar. Terapkan apa yang sudah kalian pelajari. Apakah sama penjelasan di atas dengan realita kalian memotret. Saya pastikan 100% sama. Tanpa mempraktikan secara langung, akan sulit untuk mengukur seberapa tinggi ilmu fotografi yang sudah kalian miliki. Dengan mempunyai hasil, penilaian dari orang lain itulah yang menjadi tolak ukur kemampuan kalian.

Scroll To Top